Berita / SainsTek

19 Juli 2020: Melihat Bulan dan 5 Planet dengan Mata Telanjang

Rabu, 15 Juli 2020 21:05:41
454 klik
Oleh : cemplung



Jakarta - Sesekali tak ada ruginya jadi astronom amatir. Terlebih karena realita memungkinkannya dan tanpa harus keluar modal. Jadi astronom amatir yang dimaksud adalah melihat fenomena langit yang akan terjadi pada hari Minggu, 19 Juli 2020, hanya dengan menggunakan mata telanjang. Tak perlu teleskop atau teropong bintang. Hari itu, sekitar 45 menit menjelang matahari terbit, atau sekitar pukul 4:45 pagi, bulan dan 5 planet akan tampil membentang di horizon. Planet yang akan terlihat adalah Merkurius, Venus, Mars, Saturnus, dan Jupiter.

Peluang menikmati fenomena cantik ini disampaikan Dr Jeffrey L Hunt, pensiunan Direktur Planetarium di SMA Waubonsie Valley, Aurora, Illinois, lewat blognya sejak 22 Maret 2020. Meski bergelar doktor, gelar S3-nya bukanlah di bidang Astronomi. Yang Astronomi adalah gelar Master (S2) yang diraih di Michigan State University. Itu pun bukan di Astronomi tulen, melainkan Pendidikan Astronomi. Sebagai peminat super serius astronomi, ia biasa menuangkan pemikirannya lewat blog berjudul ''When The Curves Line Up'', alias Ketika yang Melengkung jadi Sejajar.

Kurang lebih 'judul blog' itu yang akan terjadi pada 19 Juli mendatang: fenomena bulan berjajar dengan 5 planet lain. Plus ada bonus juga. Dua bintang besar juga akan terlihat: Aldebaran dan Formal Haut. Kesejajaran planet itu, dari kiri ke kanan, tidak berupa garis lurus. Atau sebenarnya cembung (melengkung ke atas). Keseluruhan penampakan akan membentang dari sisi Timur hingga ke sisi Barat Daya, dengan arah Tenggara berada di tengah-tengah. Kalu mau gampang, ia menyarankan melihat ke arah tenggara, yang menjadi posisi planet Mars, di puncak cembungan.

Yang berada di sisi kiri, atau paling Timur, adalah bulan. Bulan akan tampil sebagai bulan yang kecil, karena sudah akan berganti bulan (19 Juli sama dengan 28 Zulkaidah 1441 H, totalnya Zulkaidah berumur 30 hari). Kalau bulan sudah tak kelihatan, Dr Jeffrey menyarankan melihatanya pakai teropong biasa atau kamera dengan lensa zoom. Hal yang sama juga mugkin perlu dilakukan untuk melihat Jupiter, yang akan berada di posisi paling kanan, Barat Daya.

Kembali ke bulan di sisi kiri, di sebelah kanannya bakal terlihat planet Merkurius, bergeser lagi ke kanan akan terlihat planet Venus, dan jika bergeser lagi ke kanan akan ada bintang Aldebaran. Di tengah, Tenggara, seperti sudah disebut tadi, akan terlihat planet Mars. Selanjutnya, jika bergeser lagi ke kanan dan dekat arah Selatan, akan tampak bintang Formal Haut. Dan akhirnya, di posisi Barat daya, planet Saturnus akan terlihat berada di atas planet Jupiter.

Seperti ketika melihat gerhana bulan, yang prosesnya bertahap, kesejajaran bulan dan 5 planet tadi juga berlangsung bertahap dan perlahan. Dr Jeffery bilang kalau Jupiter sudah mulai bisa diamati 2 jam sebelum matahari terbit, atau sekiatar pukul 2:45 pagi. Dan keberjajaran itu, tambahnya, masih akan berlangsung hingga 25 Juli. Tapi bulan dipastikan sudah menghilang dan Jupiter sudah semakin sulit dilihat dengan mata telanjang.

Bisakah 'ramalan bintang' Dr Jeffrey dipercaya? Silakan buktikan sendiri. Tak ada ruginya. Hanya perlu sedikit begadang dan semoga tidak hujan dan langit tetap cerah. Tapi yang jelas, majalah astronomi Space.com pun mengabarkan hal yang serupa. Dalam kalender bulanan Night Sky Juli 2020, Space.com menyebut pada 19 Juli 2020 bulan akan terlihat berdampingan dengan planet Merkurius. Alias tak beda dengan perkiraan Dr Jeffrey.***

















Berita SainsTek Lainnya